
Dokter…dokter…dan dokter…, profesi yang satu ini masih dianggab sebagai salah satu profesi yang elegan dan sudah jelas memiliki masa depan yang cerah, itu anggapan sebagian banyak orang, termasuk saya.
“menikah dengan seorang dokter..?” wahhh pasti merupakan sebuah keberuntungan besar untuk si calon istri atau pun si calon suami, bagaimana tidak..? pada kenyataanya, profesi dokter selalu menjanjikan banyak peluang dan kesempatan, tak hanya dari sisi materi yang dapat diperoleh dengan lebih dari cukup, melainkan juga dengan nilai keberadaanya yang akan selalu dibutuhkan dimanapun dan kapanpun, cukup membanggakan bukan?
karena orang sakit tak akan pernah habis, begitu pula dengan variasi penyakit yang tumbuh subur di Indonesia. Dua hal tersebut menjadi sebuah peluang yang luar biasa.
Seorang Dokter dapat hidup mumpuni dari jasa orang2 sakit yang bersedia berobat kepadanya, mereka mengais rejeki dari sekali resep yang ia tulis dengan gaya tulisannya yang kebanyakan mirip seperti coretan, belum lagi ketika mereka berhasil mempromosikan obat2an milik perusahaan besar yang kebanyakan import kedalam resep yang ia tuliskan untuk si pasien. Sehingga menyebabkan obat generik miliki pemerintah tak laku.
Sudah barang tentu dalam waktu sekejap, sebuah mobil baru sudah bisa masuk ke dalam garasi rumah, atau bahkan dalam waktu sekejab bisa masuk ke dalam rumah baru untuk yang kesekian kalinya.
tampaknya sangat indah dan menggiyurkan, bagi sebagian dokter berdalih, bahwa apa yang telah mereka dapatkan sesuai dengan tenaga, waktu, dan modal yang sudah mereka pertaruhkan selama 7 tahun lamanya. “ usaha keras, harus berbuah manis”.
namun apakah hanya sampai disitu saja keinginan mereka, setelah balik modal, kemudian menumpuk modal?...
di lain hal, salah satu permasalahan di Indonesia adalah sentralisasi tenaga medis ke daerah- daerah terpencil di Indonesia, sebut saja NTT atau Papua.
telah lebih dari 5 tahun lamanya, penduduk kawasan terpencil di luar jawa tersebut haus akan pelayanan kesehatan yang semestinya layak mereka dapatkan dari para sejawat kedokteran yang nyatanya telah nyaman hidup di tengah kota yang berkembang.
Pemerintah memang belum sepenuhnya dapat mengatasi permasalahan ini, pendanaan menjadi salah satu faktor utama keterlambatan mereka dalam mengatasi problem satu ini.
untuk dapat mendukung sentralisasi tenaga medis ke pelosok membutuhkan dana yang tidak sedikit, belum lagi untuk menjamin kehidupan para tenaga medis selama mengabdi disana.. pemerintah sekalipun masih angkat tangan mengenai urusan tersebut.
bekerja dan membuka praktek di daerah terpelosok di rasa sangat merepotkan, disana….ketersediaan fasilitas pengobatan sangat tidak lengkap, belum lagi factor transportasi yang sulit dijangkau, sinyal untuk telpon sekalipun kadang susah-susah gampang, jauh dari pusat perbelajaan, ataupun bioskop, jauh dari keluarga dan ada banyak faktor lain yang tidak bisa mereka dapatkan dibandingkan dengan keadaan mereka saat bekerja di tengah kota yang berkembang.
so, hampir kebanyakan dokter sedang merebutkan satu kue yang sama, adalah tengah kota yang berkembang dan memiliki banyak peluang, ditengah kota kehidupan sosialnya dianggab lebih seimbang, dan akan selalu menjadi lahan basah untuk mengembangkan kemampuan medisnya, padahal setiap beberapa tahun sekali dokter2 baru banyak bermunculan , dan bila kebanyakan dari mereka memiliki paradigm yang sama, “bahwa mereka akan menjadi dokter yang sukses ditengah kota”.
maka tidak menutup kemungkinan aksi saling berebut lahan rejeki di tengah kota akan terjadi, mengingat telah banyak berdiri rumah sakit, menjamurnya jasa dokter praktek, dokter spesialis, dan padatnya salon kecantikan hasil lisensi dengan dokter kulit, dsb.
kalaupun ada dokter yang bersedia bekerja di luar pulau jumlahnya satu banding seribu, dan belum banyak dokter yang berani menunjukkan dedikasinya sampai sejauh itu.
Padahal kalau saja mereka mau mencermati dan lebih bersabar, justru peluang besar itu terletak di daerah-daerah kecil yang terisolir, disana naluri kedokteran mereka akan dirasa lebih bermakna sebagaimana sejatinya seorang dokter adalah menjadi malaikat- malaikat kecil bagi orang2 yang amat sangat membutuhkan kehadirannya.
but what ever, dimana-mana masalah itu sama saja membingungkan, semua itu tergantung dari sisi mana kita memaknainya.
(fy)